Tangan Menulis dalam Rahasia Bunga
tangan menulis dalam rahasia bunga
dalam kuntum-kuntum
dalam napas yang tidur
dalam arus mengalir
: mengalir
ke akar pohon ke daun ke bunga
kita tidur bersama
kita bernapas
: bersama
dalam bahasa bunga
gambar kekasih
dan pigura di wajah
bulan: berdarah!
ada yang bersinar dalam jiwa
pupusnya tembus
kata tak terkata
“tanah! tanah!”
Thursday, June 21, 2018
Wednesday, June 20, 2018
Alat Peraga Perang - Ibe S. Palogai
Alat Peraga Perang
ia duduk berpangku tangan
di hadapannya sebuah peta membentang
ia pandang dengan mata mengenang
dua musim hujan telah ia kuasai
di kursinya ia duduk seperti tersangka
tak mampu mengakui kesalahannya
di atas peta berserakan mayat-mayat maya
dengan darah mengenang nyata
pukul dua malam ia membuka jendela
hujan jatuh dan tak sanggup menyentuh tanah
hanya searsir peta yang menggenang
“semoga hujan mengubur mereka.”
ia duduk berpangku tangan
di hadapannya sebuah peta membentang
ia pandang dengan mata mengenang
dua musim hujan telah ia kuasai
di kursinya ia duduk seperti tersangka
tak mampu mengakui kesalahannya
di atas peta berserakan mayat-mayat maya
dengan darah mengenang nyata
pukul dua malam ia membuka jendela
hujan jatuh dan tak sanggup menyentuh tanah
hanya searsir peta yang menggenang
“semoga hujan mengubur mereka.”
Buah Hati - Joko Pinurbo
BUAH HATI
Langit memberkati kita
dengan hujan
yang istikamah.
dengan hujan
yang istikamah.
Hatimu bersemi kembali,
tambah sabar,
tumbuh subur
dan berbuah.
tambah sabar,
tumbuh subur
dan berbuah.
Kau di dalam selimut,
aku di dalam kau,
merekah di malam basah.
aku di dalam kau,
merekah di malam basah.
Ingin kupetik
buah hatimu
yang merah
dan kau berkata, “Lekaslah.”
buah hatimu
yang merah
dan kau berkata, “Lekaslah.”
Kemolekan Landak - Warih Wisatsana
Kemolekan Landak
kepada Muriel Barbery
kepada Muriel Barbery
Sungguh tak ada nama kita di sini
Percuma merunut kata
hingga akhir cerita
hingga akhir cerita
Bukankah kita lalat tak ingin putus asa
berkali membenturkan diri ke kaca
berulang terbangun dini hari
mencari padanan arti
menimang bunyi
berkali membenturkan diri ke kaca
berulang terbangun dini hari
mencari padanan arti
menimang bunyi
Menemukan goa tersembunyi dalam kata
dengan remang cahaya di ujungnya
Jalan berliku ke masa lalu
di mana kau dan aku meragu
bertanya selalu
Pada diri siapakah cermin ini terpahami?
dengan remang cahaya di ujungnya
Jalan berliku ke masa lalu
di mana kau dan aku meragu
bertanya selalu
Pada diri siapakah cermin ini terpahami?
Tapi semalaman tak kunjung kita temukan kiasan
bagi ular yang semusim melingkar di belukar
bagi ular yang semusim melingkar di belukar
Atau buah apel dalam ingatan
yang membusuk perlahan
di mana seekor ulat merelakan rumah raganya
sebelum terbang jadi lebah kasmaran
bercumbu sekali lalu mati sendiri
yang membusuk perlahan
di mana seekor ulat merelakan rumah raganya
sebelum terbang jadi lebah kasmaran
bercumbu sekali lalu mati sendiri
Semalaman tak juga kita temukan
pengandaian sempurna bagi sang juru jaga
Landak molek
yang menyimpan duri dalam diri
menahun di batin tak tersembuhkan
pengandaian sempurna bagi sang juru jaga
Landak molek
yang menyimpan duri dalam diri
menahun di batin tak tersembuhkan
Berulang kita menimbang
meluluhkan arti dan bunyi
agar kisah ini direnungi berkali
mengalir dari kamar ke kamar
bagai tulisan pesan orang mati
meluluhkan arti dan bunyi
agar kisah ini direnungi berkali
mengalir dari kamar ke kamar
bagai tulisan pesan orang mati
Mengalir seturut kelana kucing tua
yang tidur di sembarang taman
mengikuti dari kejauhan
dua perempuan paruh baya
terdiam
menyeberangi malam
yang tidur di sembarang taman
mengikuti dari kejauhan
dua perempuan paruh baya
terdiam
menyeberangi malam
Sungguhkah setiap hari menunggu
seseorang mengetuk pintu
sambil menghapal derik jengkrik
dalam haiku
yang tak kunjung
sehening petang
Seraya minum teh
meresapi kehampaan
seseorang mengetuk pintu
sambil menghapal derik jengkrik
dalam haiku
yang tak kunjung
sehening petang
Seraya minum teh
meresapi kehampaan
Tapi tak ada yang menyadari
di lantai tertinggi gedung menjulang ini
seorang bocah melankolia
jemu pada ibu
Membayangkan bunuh diri setahun lagi
di lantai tertinggi gedung menjulang ini
seorang bocah melankolia
jemu pada ibu
Membayangkan bunuh diri setahun lagi
Tak kuasa ia melupakan bunga violet muda
hiasan aneka pakaian dalam
selembut jaring laba-laba
yang mengelabui mata
Sederas ingatan cemas
seharian menghanyutkan ibu ke dalam cermin
hiasan aneka pakaian dalam
selembut jaring laba-laba
yang mengelabui mata
Sederas ingatan cemas
seharian menghanyutkan ibu ke dalam cermin
Ya, tak ada nama kita di sini
Percuma merunut kata
hingga akhir cerita
hingga akhir cerita
Semua ini bermula dari lelaki tua
berharap terlihat selalu bijaksana
dengan segala mungkin
ingin putri terkasihnya
menjelma si jelita panggung semalaman
berharap terlihat selalu bijaksana
dengan segala mungkin
ingin putri terkasihnya
menjelma si jelita panggung semalaman
Kiasan sempurna bagi landak molek
yang menyembunyikan duri dalam dirinya
yang menyembunyikan duri dalam dirinya
2018
Para Pemabuk -- Asyari Muhammad
1/
aku menari hanya kepada-mu
mabuk di atas bukit
kemudian kugapai-gapai rinduku pada-mu
sebelum datang penghuni yang baru:
2/
di sanalah aku mabuk rindu
berguru pada malam
setia di atas bukit seakan menjamah langit
3/
para pemabuk menatap-nya
tawadhu’
khusyuk
di alam nyata
Jepara
aku menari hanya kepada-mu
mabuk di atas bukit
kemudian kugapai-gapai rinduku pada-mu
sebelum datang penghuni yang baru:
2/
di sanalah aku mabuk rindu
berguru pada malam
setia di atas bukit seakan menjamah langit
3/
para pemabuk menatap-nya
tawadhu’
khusyuk
di alam nyata
Jepara
Sajak 20 Butir Leunca Muda – Diah Hadaning
kekasihku,
santunan segala cinta tak pernah berkecambah dalam
pusar Adam dan Hawa tak pernah ingkar setia
hari-hari selalu berpacu dengan umurmu
adakah kau tahu
berkali telah kusentuhkan bunga putih dan merah
di ujung matamu yang penat dan lelap
karena kau bermimpi
mengunyah dua puluh butir buah leunca muda
kau tak bisa tegar menjadi naga penyangga bumi
memberikan perkasamu untuk membongkar peranda ini
bila dalam gengganganmu yang kencang
tetap kau mimpikan dua puluh butir buah leunca muda
apa lagi bila kau pun mulai mencoba
menyeret hatimu yang luka bukan oleh
pertempuran lantaran membela bukit-bukit Sukarno
atau siksa bayi dan bocah Campuchea tinggal kerangka
kau coba melipurnya dengan menjenguk-jenguk
daerah warung bubur dan segala macam parloba
kekasihku,
lebih baik aku membunuhmu di Kaki Tuhan
sebelum kau menghancurkan diri sendiri
dan dunia kita dengan polahmu yang hina
atau kau buang itu dua puluh butir buah leunca muda
dan bangun pegang tanganku
menyusul barisan yang telah mulai berangkat pergi.
Jakarta, 1979
santunan segala cinta tak pernah berkecambah dalam
pusar Adam dan Hawa tak pernah ingkar setia
hari-hari selalu berpacu dengan umurmu
adakah kau tahu
berkali telah kusentuhkan bunga putih dan merah
di ujung matamu yang penat dan lelap
karena kau bermimpi
mengunyah dua puluh butir buah leunca muda
kau tak bisa tegar menjadi naga penyangga bumi
memberikan perkasamu untuk membongkar peranda ini
bila dalam gengganganmu yang kencang
tetap kau mimpikan dua puluh butir buah leunca muda
apa lagi bila kau pun mulai mencoba
menyeret hatimu yang luka bukan oleh
pertempuran lantaran membela bukit-bukit Sukarno
atau siksa bayi dan bocah Campuchea tinggal kerangka
kau coba melipurnya dengan menjenguk-jenguk
daerah warung bubur dan segala macam parloba
kekasihku,
lebih baik aku membunuhmu di Kaki Tuhan
sebelum kau menghancurkan diri sendiri
dan dunia kita dengan polahmu yang hina
atau kau buang itu dua puluh butir buah leunca muda
dan bangun pegang tanganku
menyusul barisan yang telah mulai berangkat pergi.
Jakarta, 1979
Sunday, June 10, 2018
BUAH BIBIR - JOKO PINURBO
Buah bibir adalah ciuman:
manis yang tak mau habis,
segar yang takut hambar,
hangat yang ingin lekat,
sesap yang menyisakan senyap,
utuh yang berangsur luruh,
Buah cium adalah aduh.
manis yang tak mau habis,
segar yang takut hambar,
hangat yang ingin lekat,
sesap yang menyisakan senyap,
utuh yang berangsur luruh,
Buah cium adalah aduh.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kepada Anakku
Anakku.. Seperti kata seorang pujangga Kau bukan milikku Kau adalah anak jamanmu Seperti aku adalah anak jamanku Tapi anakku.. ...
-
Pastoral Kabut yang mengepungmu Telah runtuh menjadi kata-kata Rumah kayu hanya menyisakan dinginnya Dan sunyi mengendap di sana...
-
Tentu. Kau boleh saja masuk, masih ada ruang di sela-sela butir-butir darahku. Tak hanya ketika rumahku sepi, angin hanya menyentuh...
-
aku suka menjadi gila yang sering berbicara di banyak tempat dan hanya kau satu-satunya orang yang mampu menangkap pengertiannya. aku suka ...