Showing posts with label Joko Pinurbo. Show all posts
Showing posts with label Joko Pinurbo. Show all posts

Friday, September 7, 2018

Sajak Balsem untuk Gus Mus

Akhir-akhir ini banyak
orang gila baru berkeliaran, Gus.
Orang-orang yang hidupnya
terlalu kenceng dan serius.
Seperti bocah tua yang fakir cinta.
Saban hari giat sembahyang.
Habis sembahyang terus mencaci.
Habis mencaci sembahyang lagi.
Habis sembahyang ngajak kelahi.
Dikit-dikit marah dan ngambek.
Dikit-dikit senggol bacok.
Hati kagak ada rendahnya.
Kepala kagak ada ademnya.
Menang umuk, kalah ngamuk.
Apa maunya? Maunya apa?
Dikasih permen minta es krim.
Dikasih es krim minta es teler.
Dikasih es teler minta teler.
Kita sih hepi-hepi saja, Gus:
ngeteh dan ngebul di beranda
bersama khong guan isi rengginang,
menyimak burung-burung
bermain puisi di dahan-dahan,
menyaksikan matahari
koprol di ujung petang.
Bahagia adalah memasuki hatimu
yang lapang dan sederhana,
hati yang seluas cakrawala.
 
 
(Jokpin, 2016)

Wednesday, June 20, 2018

Buah Hati - Joko Pinurbo

BUAH HATI


Langit memberkati kita
dengan hujan
yang istikamah.

Hatimu bersemi kembali,
tambah sabar,
tumbuh subur
dan berbuah.

Kau di dalam selimut,
aku di dalam kau,
merekah di malam basah.

Ingin kupetik
buah hatimu
yang merah
dan kau berkata, “Lekaslah.”

Sunday, June 10, 2018

BUAH BIBIR - JOKO PINURBO

Buah bibir adalah ciuman:
manis yang tak mau habis,
segar yang takut hambar,
hangat yang ingin lekat,
sesap yang menyisakan senyap,
utuh yang berangsur luruh,
Buah cium adalah aduh.

Thursday, June 7, 2018

JENDELA - JOKO PINURBO

Di jendela tercinta ia duduk-duduk
bersama anaknya yang sedang beranjak dewasa.
Mereka ayun-ayunkan kaki, berbincang, bernyanyi
dan setiap mereka ayunkan kaki
tubuh kenangan serasa bergoyang ke kanan dan kiri.

Mereka memandang takjub ke seberang,
melihat bulan menggelinding di gigir tebing,
meluncur ke jeram sungai yang dalam, byuuurrr….

BAJU BULAN - JOKO PINURBO

Bulan, aku mau lebaran. Aku ingin baju baru,
tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang,
sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan.
Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam?
Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkan
bajunya yang kuno di antara begitu banyak
warna-warni baju buatan. Bulan mencopot bajunya
yang keperakan, mengenakannya pada gadis kecil
yang sering menangis di persimpangan jalan.
Bulan rela telanjang di langit, atap paling rindang
bagi yagn tak berumah dan tak bisa pulang.


(2003)
Joko Pinurbo

Kepada Anakku

Anakku.. Seperti kata seorang pujangga Kau bukan milikku Kau adalah anak jamanmu Seperti aku adalah anak jamanku Tapi anakku.. ...