Showing posts with label Ahmad Yulden Erwin. Show all posts
Showing posts with label Ahmad Yulden Erwin. Show all posts

Friday, May 25, 2018

PUISI-PUISI AHMAD YULDEN ERWIN



Dari Kenangan Li-Young Lee

Petang musim gugur terhuyung memeluk daun pintu di beranda remang apartemen tua, dua letih bertemu, senyap menatap sekincir kenangan di ranting mapel; gigil sepasang sayap gagak, pelintas perih dua benua, umpama lanun dikutuk membenci bendera apa pun.
Dari satu saku jaket ditariknya sejarik lusuh sisa gaun, hanya lesit bau sangit penyimpan jerit ribuan korban, seakan ampas sejarah terbakar ditanam di kaki nisan, di balik nonsens, denting darah dari dawai samisen dipetik awal bulan Mei sebelum rezim diruntuhkan.
Petang mengapung di sungai keruh, cuaca mengayuh derau angin, selenting desis pada urat betis terbakar adalah kenangan yang lain; kelingking kiri menyeka embun mengalir perlahan di pipi melepuh—sekelam biji mata ikan cod—di sana seorang putri merengek
teringat lengking bidadari mandi dan bujang pemburu mengintip di balik mimosa; dengus di tepian sendang, menyeret puan ke bilik sepi—menanak sebutir nyeri. Sebentar tercekat, erat-erat kaupeluk bahu putrimu sebelum berbisik: “Lupakan dongeng itu, ibumu kini
dipeluk selendang terbang malam-malam ke surga, ke mega-mega, di balik nisan itu.” Berkisar kembali, cuaca minus dia di Lincoln County, bermuka-muka dua turis
duduk di Cafe Mississippi; seorang lelaki sekutuk-sekutuk meludahi riwayat kembar dua kota.

Dihampiri kenangan ketiga, lelaki itu mulai merintih seolah sebatang pena menoreh luka di lambungnya saat awan putih memeluk bukit putih, tanpa tangis, meski sepasang tangan itu berayun menjadi bengis, menancapkan linggis ke kening bayi berparas sedih.
Setiap metafora tak lain taring, penggigit pelir anjing, gerutumu—sebelum merutuki kuntum-kuntum mapel gugur menjemput lima larik puisi gering—perlahan kauiris catfish di piring; seorang turis yang kelaparan di Kafe Mississippi, menaburi lada ke jarinya sendiri.

Begitu malam melaju, dua turis dari negeri cincin api menyurusi Fifth Avenue, masuk toko gantungan kunci; yang satu termangu menatap neon merkuri, yang lain mencekik sebotol wiski. Ah, di sini Tuhan telah pergi, jauh sekali, jauh di belakang kami, gerutumu sembari
mendorong daun pintu, derit yang menyimpan ngilu. Malam itu dua lelaki melepas satu puisi. Meski selalu kau merasa bukan pengungsi, pas tersisa satu nyeri, dibakar amuk hingga mimpi: “Tak bisa aku kembali, putriku hangus di gerai pagi.” Ia padam disiram wiski.

Kepada Anakku

Anakku.. Seperti kata seorang pujangga Kau bukan milikku Kau adalah anak jamanmu Seperti aku adalah anak jamanku Tapi anakku.. ...