Friday, August 24, 2018

KEPADA SEPI

kita terbuat dari segala persembunyian,
kau sembunyikan aku dari mereka,
dan dariku kau bersembunyi dengan mereka.

cinta kita akan diam-diam
aku diam-diam mendoakanmu
kau diam-diam menduakanku.

tak usah kau asuh rinduku
sebab sudah kubasuh segala sedih,
saat serigalamu mengambil alih.

Alfin Rizal

Friday, July 6, 2018

Zaman Terkutuk - Em Yasin Arief

Zaman Terkutuk

Aku terseret-seret zaman millennial
Telpon pintarku tiada henti merantai tangan
Hangat kebersamaan mendadak sunyi
Ramai-ramai kita menunduk pada layar
Gelombang kata-kata tanpa makna
membludak dari mulut cuma-cuma
Pendapat berhamburan tanpa nalar
Budaya tak menghidupkan jiwa
Anak muda mengkritik tanpa membaca
Guru berteori tanpa menginjak bumi
Tren menjadi konsumsi sehari-hari
Arus menggerus akar tradisi
Hidup tak berguna tak apa asal kaya
Kekayaan maha segala-galanya
Kekayaan menjadi puncak cita-cita
Kekayaan harkat dan martabat manusia
ㅤㅤ ㅤㅤ

Friday, June 22, 2018

Uma – Putu Fajar Arcana

Uma

 
Pohon yang kau pahat di dinding luluh dalam kabut.
Seorang jejaka atau gembala tua
yang menahanmu di tepi hutan cemara.
Angin tak jua berkabar tentang risau langit senja. Dan para dewa
mengintipmu dari celah dedaunan. Mungkin mereka sangsi
tentang petaka
tentang kutuk yang kau derita.
Kau tahu air susu lembu itu, hanya tipu
gerutu pilu seorang pangeran kahyangan.
Tapi cemar telah ditebar. Pantang menjilat sabda
yang bagai kilat menyambar, menghanguskan pucuk daun.
Jadi pergi, pergilah sejauh hutan.
Seorang malaikat muda menunggumu
di balik rimbun cahaya. Dan jika mukaku terbakar
karena api dalam darahmu, sebaiknya tak usah kembali.
Sebab surga tak seperti diceritakan dalam kitab.
Penuh kutuk dan sabda keji para pangeran tua.
Uma, pohon yang kau pahat di dinding leleh dalam terik.
Seorang dewa atau gembala tua yang mengutukmu.
Pasrahkan pada angin agar senja memerah
dan mengantar mataharimu ke balik malam.
2008

Catatan Harian Pekerja Borongan – Yopi Setia Umbara

 Catatan Harian Pekerja Borongan


tak ada hari libur. bahkan di hari minggu
akal kami adalah tenaga. tenaga akal kami
cukup kasih nasi. kerja sungguh-sungguh
sebab keringat punya harga. daripada darah
sepanjang hari. tubuh kami terus basah
tak ada waktu tidur. selain menutup mata
sekejap melupakan kerja. lalu siap-siap
kembali menjadi ujung jari pembangunan

(Catatan-Catatan Hal. 32) – Seno Gumira Ajidarma

(Catatan-Catatan Hal. 32)

 
kota adalah asap, sayangku
ia mungkin juga terali baja
atau ini atau itu: kita hanya sampai pada kemungkinan

ya, bintang malam terlontar, mati menari
bunyi air siapa, bunyi ratap siapa
— petualang-petualang hitam

kota ini, kota tak tampak
tak banyak yang menjadi jelas

(meski kau tak tahu, senja dan senja jadi milikmu
mungkin duka atas pundakku
mungkin suka atas pundakku
tak tahu juga,
tapi senja bukan punya siapa-siapa)

kota adalah sampah. mimpiku
nasib seolah tak terbagi
            matahari demi matahari, bulan demi bulan
dan di lorong-lorong, banyak bayi tergeletak, berak

meski tak baik kita berkhayal
aku telah jadi bermacam alat (tak pernah milikmu)
ini juga cuma satu hal, kenapa semua tak pernah jelas

kota adalah kabut, sampah dan mimpi
nyanyian cahaya dan
takdir celaka



Jakarta 1977

Diksi Para Pendendam – Badruddin Emce

Diksi Para Pendendam

 
Tangan untuk melupakan nyaris tak punya.
Kami hanya punya tangan untuk mengingat.
Tangan ini, tanpa menunggu perintah
rasa lapar,
mengais-ngais di antara garis:

Namamu, dengan huruf legam kayu arang,
terus merambah sisa-sisa pohon di hutan.

Tempat kelahiranmu dahulu berjalinan
kara-cincau,
kini bertegakan tiang kemarau.

Kau tahu, di desamu ribuan sumur digali
hanya untuk memahamimu?

Tanggal lahirmu adalah hari sial orang-orang
yang mengiramu malaikat
atau jalan cepat menuju hakekat.

Agamamu telah mendorong kami
saling mencurigai.

Saling melarang berbuat baik
dan bersungguh-sungguh.

Pendidikanmu membuat kami harus belajar
lebih keras,
hanya untuk mengejar tempat teratas.

Pekerjaanmu sungguh membuat kami
harus mengulang yang tak perlu:

Buku-buku yang kami cetak
ternyata tak pantas dibaca anak-anak.

Alamatmu membuat kami kesasar
dan hari ini kami masih terus bertengkar
Bagaimana bisa keluar dari belukar.

Nomor ponselmu mendorong kami
berselingkuh denganmu
hingga kehabisan gairah untuk wujudkan yang nyata.

Hobimu menjadi anak-anak.

Hanya para pendendam tega menyalahkanmu,
lalu menangkapmu, memenjarakanmu
seumur puisi.

Sebuah kata yang tak pernah tepat
di baris manapun
telah memaksa kami untuk memilih
dan berhimpun.


2007

Thursday, June 21, 2018

Jembatan – Sutardji Calzoum Bachri


Jembatan



Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung
air mata bangsa. Kata-kata telah lama terperang-
kap dalam basa-basi dalam teduh pekewuh dalam
Isyarat dan kilah tanpa makna.
     Maka aku pun pergi menatap pada wajah
orang berjuta.
      Wajah orang tergusur
      Wajah yang ditilang malang
      Wajah legam para pemulung yang memungut
remah-remah pembangunan
      Wajah yang hanya mampu menjadi sekedar
penonton etalase indah di berbagai plaza.
      Wajah yang diam-diam menjerit melengking
melolong dan mengucap :
            tanah air kita satu
            bangsa kita satu
            bahasa kita satu
            bendera kita satu
       Tapi wahai saudara satu bendera, kenapa
kini ada sesuatu yang terasa jauh-beda diantara kita ?
      Sementara jalan-jalan mekar di mana-mana
menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan
timbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah yang
ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani
jurang di antara kita ?
      Di lembah – lembah kusam pada pucuk tulang kersang
dan otot linu mengerang mereka pacangkan koyak-
moyak bendera hati dipijak ketidakpedulian pada saudara.
Gerimis tak mampu mengucap kibaran-
nya. Lalu tanpa tangis mereka menyanyi :
          padamu negeri
          airmata kami

Kepada Anakku

Anakku.. Seperti kata seorang pujangga Kau bukan milikku Kau adalah anak jamanmu Seperti aku adalah anak jamanku Tapi anakku.. ...