Semua perihal diciptakan sebagai batas.
Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain.
Hari ini membataai besok dan kemarin.
Besok batas hari ini dan lusa.
Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara dan kantor walikota.
Juga rumahmu dan selurih tempat dimana pernah ada kita.
Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta.
Resah di dadamu dan rahasia yang menanti dijantung puisi ini dipisahkan kata-kata.
Begitu pula rindu, hamparan laut dalam antara pulang dan seorang petualang yang hilang.
Seperti penjahat dan kebaikan dihalang uang dan undang-undang.
Seorang ayah membelah anak dari ibunya, dan sebaliknya.
Atau senyummu, dinding diantara aku dan ketidakwarasan.
Persis segelas kopi tanpa gula menjauhkan mimpi dan tidur.
Apa kabar hari ini ?
Lihat, tanda tanya itu
jurang antara kebodohan dan keinginanku
memilikimu sekali lagi.
Saturday, June 9, 2018
Friday, June 8, 2018
ASMARAGAMA - SENGAT IBRAHIM
aku suka menjadi gila yang sering berbicara
di banyak tempat dan hanya kau satu-satunya
orang yang mampu menangkap pengertiannya.
aku suka menjadi gila yang sering menertawai orang
waras tanpa membuatnya tersinggung, kemudian
mereka membalas dengan senyum paling agung.
aku suka menjadi gila berjalan ke mana-mana
juga tinggal di mana-mana. karena segalanya
sudah menjadi rumah dan kau sebagai isinya.
aku suka menjadi gila yang selalu mengejarmu
kuingin kau tetap menjauh sebab segala sesuatu
yang bisa kusentuh pada akhirnya ‘kan rapuh.
Sengat Ibrahim
di banyak tempat dan hanya kau satu-satunya
orang yang mampu menangkap pengertiannya.
aku suka menjadi gila yang sering menertawai orang
waras tanpa membuatnya tersinggung, kemudian
mereka membalas dengan senyum paling agung.
aku suka menjadi gila berjalan ke mana-mana
juga tinggal di mana-mana. karena segalanya
sudah menjadi rumah dan kau sebagai isinya.
aku suka menjadi gila yang selalu mengejarmu
kuingin kau tetap menjauh sebab segala sesuatu
yang bisa kusentuh pada akhirnya ‘kan rapuh.
Sengat Ibrahim
Thursday, June 7, 2018
JENDELA - JOKO PINURBO
Di jendela tercinta ia duduk-duduk
bersama anaknya yang sedang beranjak dewasa.
Mereka ayun-ayunkan kaki, berbincang, bernyanyi
dan setiap mereka ayunkan kaki
tubuh kenangan serasa bergoyang ke kanan dan kiri.
bersama anaknya yang sedang beranjak dewasa.
Mereka ayun-ayunkan kaki, berbincang, bernyanyi
dan setiap mereka ayunkan kaki
tubuh kenangan serasa bergoyang ke kanan dan kiri.
Mereka memandang takjub ke seberang,
melihat bulan menggelinding di gigir tebing,
meluncur ke jeram sungai yang dalam, byuuurrr….
melihat bulan menggelinding di gigir tebing,
meluncur ke jeram sungai yang dalam, byuuurrr….
BAJU BULAN - JOKO PINURBO
Bulan, aku mau lebaran. Aku ingin baju baru,
tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang,
sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan.
Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam?
Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkan
bajunya yang kuno di antara begitu banyak
warna-warni baju buatan. Bulan mencopot bajunya
yang keperakan, mengenakannya pada gadis kecil
yang sering menangis di persimpangan jalan.
Bulan rela telanjang di langit, atap paling rindang
bagi yagn tak berumah dan tak bisa pulang.
tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang,
sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan.
Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam?
Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkan
bajunya yang kuno di antara begitu banyak
warna-warni baju buatan. Bulan mencopot bajunya
yang keperakan, mengenakannya pada gadis kecil
yang sering menangis di persimpangan jalan.
Bulan rela telanjang di langit, atap paling rindang
bagi yagn tak berumah dan tak bisa pulang.
Joko Pinurbo
PUISI-PUISI AFRIZAL MALNA
Tanaman Tahun
Satu dua orang datang satu dua orang
pergi
Pohon tumbuh sendiri, sapi berjalan
sendiri
Kemarin aku berjanji menjengukmu
Nonton bersama
Satu dua orang datang satu dua orang
pergi
Tak ada halaman lain pada tubuhmu
Waktu telah jadi bentangan kain
Potongan-potongan baju, ke Selatan
ke Utara
Jam 10 malam, toko-toko telah tutup
Satu dua orang datang satu dua orang
pergi
Siapa yang mau menunggu di sini
Orang-orang berlalu
Halaman rumah belum disapu
Semua orang datang semua orang pergi
Besok aku berjanji menjengukmu
Tanpa dirimu lagi
Di situ
1983
Karikatur 15 Menit
Karikatur 15 menit membawaku berpose, seperti raja-
raja telanjang dalam baskom. Lalu gadis-gadis 15 menit
berlengketan dalam kaleng-kaleng minum. Aku bunting
dalam percintaan ini, seperti kuda beranak dalam lemari
es. Lalu aku potret diriku jadi karikatur 15 menit. Studio
foto meledak, studio foto meledak, wanita-wanita cantik
lahir setiap 15 menit. Tak ada lagi kecantikan untuk
dipotret, karena setiap 15 menit layar diganti. Tak ada lagi
peristiwa untuk dipotret, karena setiap 15 menit orang
jadi karikatur.
Karikatur 15 menit mengubah diriku jadi menu
makanan, merek sabun mandi. Lalu dunia datang
padaku seperti kerbau goyang. Sebelum berangkat
menguap jadi gas atau busa sabun: 15 menit aku merdeka
sampai mati.
1987
Wednesday, June 6, 2018
Puisi-Puisi Acep Zamzam Noor
Pastoral
Kabut yang mengepungmu
Telah runtuh menjadi kata-kata
Rumah kayu hanya menyisakan dinginnya
Dan sunyi mengendap di sana
Maut bukanlah kabut yang mengendap-endap
Tapi salju
Yang berloncatan bagai waktu
Dan menyumbat pernapasanmu
Beranjaklah dan jangan menengok
Ingin kusaksikan tubuhmu telanjang
Tanpa mantel keyakinan
Menjauh dan semakin menjauh
Kubah mesjid dan runcing menara katedral
Tenggelam di balik perbukitan
Senja mengental dalam gelas kopiku
Dan kureguk sebagai puisi yang pahit
Beranjaklah dan jangan menangis
Obor malam akan mengantarmu pergi
Melintasi jalan kesabaran
Menerobos hutan
Maut bukanlah kata-kata
Tapi doa
Yang memancar bagai cahaya sorga
Dan membakarku tiba-tiba
1991
Rue De Rivoli
Kita melaju dalam rintik gerimis
Yang menghapus semua alamat
Dari ingatanku. Udara seperti berombak
Sungai memantulkan gema
Napasmu gemetar
Di ranting-ranting poplar
Jembatan itu mengangakan rahang
Menelan musim
Yang meluncurkan perahu
Dalam cuaca dingin. Senja menjadi ajaib
Di tengah kebisuanmu
Dan redupnya angin
Ke sudut-sudut kafe
Tak ada yang perlu dilabuhkan
Kecuali jejak matahari. Sementara kau dan aku
Mungkin tak akan merubah arah sunyi
Dengan mencari kehangatan
Pada gelas atau ciuman
1997
Puisi-Puisi Daruz Armedian
Aku Sengaja Mencintaimu Untuk Kausia-siakan
aku sengaja mencintaimu
untuk kausia-siakan
seumpama jendela yang setia mengamatimu melangkah
pergi dan kembali meski yang kautuju adalah pintu
cukup aku menjadi jerawat
yang menolak tumbuh di wajahmu
agar kau tak malu dan berpaling
saat berhadapan dengan cermin dan orang lain
aku sengaja mencintaimu di dalam masa lalu yang jauh
masa di mana tak mungkin jemarimu menyentuh.
Daruz Armedian
aku sengaja mencintaimu
untuk kausia-siakan
seumpama jendela yang setia mengamatimu melangkah
pergi dan kembali meski yang kautuju adalah pintu
cukup aku menjadi jerawat
yang menolak tumbuh di wajahmu
agar kau tak malu dan berpaling
saat berhadapan dengan cermin dan orang lain
aku sengaja mencintaimu di dalam masa lalu yang jauh
masa di mana tak mungkin jemarimu menyentuh.
Daruz Armedian
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kepada Anakku
Anakku.. Seperti kata seorang pujangga Kau bukan milikku Kau adalah anak jamanmu Seperti aku adalah anak jamanku Tapi anakku.. ...
-
Pastoral Kabut yang mengepungmu Telah runtuh menjadi kata-kata Rumah kayu hanya menyisakan dinginnya Dan sunyi mengendap di sana...
-
Tentu. Kau boleh saja masuk, masih ada ruang di sela-sela butir-butir darahku. Tak hanya ketika rumahku sepi, angin hanya menyentuh...
-
aku suka menjadi gila yang sering berbicara di banyak tempat dan hanya kau satu-satunya orang yang mampu menangkap pengertiannya. aku suka ...